Muslim Menyikapi Ucapan Selamat Natal

Tadinya ingin mengawali tulisan ini dengan nada nyinyir, “udah mau 2016 masih aja pada ribut masalah ngucapin selamat natal”. Tapi setelah dipikir-pikir, sebetulnya perubahan jaman itu sendiri yang membuat permasalahan ini semakin ramai. Padahal sebelum ada media sosial, masalah ini bukan jadi masalah. Kalaupun iya, pasti tak seramai sekarang. Ini memang salah satu akibat dari sosial media, tapi kita tidak bisa menyalahkan. Dibesar-besarkannya masalah ini bisa jadi baik, bisa juga bencana, namanya juga masalah.

Terlepas dari boleh atau tidak seorang muslim memberi ucapan selamat natal, yang jelas mau ngucapin atau enggak itu hak masing-masing. Saya hanya menyayangkan orang yang bilang kalau memberi ucapan selamat natal sebanding dengan mengucap syahadat, karena jelas ini persamaan yang tak tepat.

Kalau pendapat saya pribadi, karena hal ini sifatnya syubhat (meragukan) jadi saya lebih memilih untuk meninggalkan. Gak ngucapin bukan berarti membenci ‘kan? Lagipula mereka gak merasa dirugikan, hanya saja kalau diberi selamat mungkin akan lebih senang. Tapi saya cukup toleran kok, setiap natal saya selalu sempatkan nonton Home Alone. Natal tahun ini mungkin jadi yang ke-20 kalinya.

Bagaimanapun, buat teman-teman yang hari ini merayakan natal, selamat menikmati waktu libur dan berkumpul dengan sanak saudara.

Akhir kalimat; Kalau ada opor di meja, bolehlah kita menumpang makan. Kalau gak ada, ya nunggu lebaran.

* Tulisan ini sebenarnya agak cari aman. Tapi kalau ada yang perlu dibantah, silakan.

Advertisements

31 thoughts on “Muslim Menyikapi Ucapan Selamat Natal

  1. Saya biasa aja ngucapin selamat natal. Udah biasa aja nggak perlu ribut2 he he he… Biarin aja orang ngomong apa saya nggak peduli. Wong cuma mengucapkan selamat natal aja dipermasahin. Mbok ya debat gimana korupsi bisa berakhir atau hal2 yang lebih baik

  2. Aku jg ga mgucapkan tp ga meributkan. Yg muslim toh kuanggap udah pada tau dalilnya. Jd ya resiko tanggung penumpang, hehehe. Yg natalan jg pasti heran: gw yg hari raya kok kelian yg berisik?

  3. Saya nonmuslim jadi mengucapkan saja :hehe. Cuma ya urusan mengucapkan atau tidak ya kembali ke diri masing-masing sih, lagipula toleransi tidak harus selalu diwujudkan dengan ucapan, kendati ucapan selamat adalah salah satu cara bertoleransi :)). Saya yakin untuk yang memilih tidak mengucapkan itu sudah melakukan toleransi dalam bentuk yang lain :hehe.

    1. Untungnya teman2 yg beragama nasrani sudah tau pandangan saya tentang natal dan mereka bisa menerimanya. Yang terpenting kita tetap hidup damai dan rukun.

  4. Saya non muslim mengucapkan juga… tapi menurut saya pribadi sih ya tidak apa2. Sebaliknya saya dan teman2 umat Kristiani juga selalu mengucapkan selamat Lebaran pada teman Muslim. kan bukan berarti kami mau masuk Islam dengan mengucapkan selamat saja. Menurut saya saling mengucapkan selamat itu contoh toleransi kehidupan beragama aja kok

    1. Sebelumnya, makasih atas ucapannya setiap lebaran.
      Saya sependapat, tapi atas dasar syubhat tadi saya tetap punya pilihan sendiri, selama itu gak mengacaukan kerukunan kita. Anyway, selamat berbahagia Kak..

      1. Haha saya sendiri juga gak merayakan hari Natal secare khusus kok Firman. sekarang ya ikut merayakan kalo ada hari raya apa aja untuk perayaannya termasuk lebaran. Tp gak dalam sisi agamaisnya

  5. Kalau pendapat yang saya yakini, seorang Muslim yang mengucapkan selamat natal adalah haram. Karena hal ini menyangkut denga aqidah kita sebagai Musim. Alih-alih toleransi, justru kita malah membenarkan bahwa di hari itu adalah hari kelahiran “Tuhan.” Padalah dalam Isam, Yesus adalah Nabi Isa, bukan Tuhan. Toleransi itu, “lakum diinukum wa liya diin”, bagimu agamamu, bagiku agamaku

    1. Kalau yg paling nampak, yang saya pahami tentang Nabi Isa versi Islam, hari lahirnya kemungkinan bukan di bulan Desember, di mana itu musim dingin. Karena dalam Al-Qur’an digambarkan Nabi Isa lahir di bawah pohon kurma yg berbuah, estimasinya antara bulan Juni-September. Masa musim panas hingga awal musim gugur. Tapi kembali lagi itu semua sudah jadi keyakinan masing2. Daripada perang dalil yg akhirnya malah bikin kacau, mending kasih pendapat pribadi aja.. 🙂

      1. Mungkin kita perlu melihat definisi Natal. Mengutip dari wikipedia, “Natal (dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran”) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.”

        Menurut mereka, natal itu merayakan hari kelahiran “Tuhan” yakni Yesus Kristus. Padahal dalam Islam, Yesus Kristus itu bukan Tuhan tapi Nabi Isa. Dikhawatirkan kita membenarkan kelahiran “Tuhan”, denga mengucap selamat natal. Disinilah letak pembahasan ini yang menyangkut dengan aqidah.

        “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Terjemahan QS Maryam [19]: 35)

      2. Baru baca2 ulang blog lo trus mampir sini, estimasi lo tepat, Man, krn pertimbangan cuaca itu. Lgpl kita kan sempet mengalami pergantian kalender masehi ala Julius Caesar dan August (keponakan Julius Caesar) beserta keanehannya. Hal itu juga lah yang ‘dikupas’ oleh gereja denominasi/aliran gue makanya kami gak ngerayain Natal secara khusus. Begitu pula perayaan Paskah, ga ngerayain juga deh.

        Btw acaranya udah lewat tp gua masih nyamber aja yak, hahaha… Topik ini menarik buat gue~

    2. Jadi yg perlu digarisbawahi adalah kalimat “Yesus sebagai Tuhan”. Oke, cukup paham.
      Kalau kita pernah lihat pembahasan Dr Zakir Naik tentang hal ini, di situ juga sebetulnya sudah dibahas mutlak.

  6. Waduh, agak berat ya.

    Kalo nggak salah, pernah ada hadist yang bilang, “Kalau itu meragukan, ya lebih baik tinggalkan.”
    Setuju nih, Man. Syahadat itu kayaknya beda level sama ucapan selamat natal itu. Mungkin setara sama hari raya.
    Gue juga nggak ngucapin, sih. Wahaha.

    1. Karena biasanya yg meragukan itu merugikan. Bilang boleh2 tapi ternyata menyangkut akidah, kan gawat urusannya.. Gak selamanya trotoar aman, kadang kita perlu ambil jalan tengah.

  7. Yah sempet bosen juga sama masalah ini. Tiap tahun kok ya sama aja. Hahaha. Biarin deh orang mau ngomong apa. Kita mah kudu teteup berpegang teguh sama apa yang dianjurkan dan dilarang oleh agama sendiri.
    Seperti kata salah satu ayat, ‘Bagimu agamamu, bagiku kaulah segalanya.’
    Eh gimana gimana?

  8. oke lah bang gapapa,ngucapin mah toh cuma ngucapin bukan niat untuk pindah agama yg penting kan niatnya
    innal amalu bin niat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s