Pengangguran (dipaksa) Bahagia

Rasanya baru kemaren-kemaren ikut MOS masuk SMA, tau-tau sekarang udah ganti status bukan lagi sebagai pelajar SMA. Untuk pelajar yang berangkat cuma buat nunggu bel pulang, 3 tahun emang waktu yang singkat. Karena guru-guru gak tahan lagi mengajari muridnya yang selalu gagal paham ketika diajar, akhirnya dengan khilaf sekolah mewisudakan gue tahun ini, gue dinyatakan lulus. Sesuatu yang sangat membahagiakan. Tapi di mana ada senang, ada pula kesedihan. “Lanjut kuliah di mana?” adalah pokok dari semua permasalahan gue saat ini. Belakangan ini gue sedang dipusingkan dengan pertanyaan seperti tadi dan sejenisnya, “Mau lanjut kuliah di mana?” “Buruan daftar kuliah sebelum ditutup” “Daftar di universitas ini aja, ceweknya cakep-cakep..” Lahh BODO! Mulai dari saudara, guru dan temen-temen yang kenal maupun yang sok kenal hobi banget menanyakan sesuatu yang bisa bikin stres. Seakan nggak ada pertanyaan lain, pertanyaan mereka sama semua, jawabannya yang beda-beda, karena gue sendiri masih bingung mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan mereka. Ini gue ikutan kuis apaan sih, kok susah amat jawabnya.

Sebetulnya gue udah daftar di beberapa universitas negri, tapi gue masih berbaik hati untuk memberi kesempatan kepada mereka yang ngebet banget pengen kuliah. Lalu kepikiran untuk daftar kuliah di luar negri, tapi kemudian gue sadar, kuliah di dalam negri aja ditolak. Eh, bukan ditolak, gue hanya memberi kesempatan kepada mereka yang ngebet banget pengen kuliah. Karena terlalu bosan dengan pertanyaaan orang-orang, akhirnya dibuatlah keputusan yang cukup berat. Tahun ini gue memutuskan untuk berhenti setahun. Dan itu artinya selama setahun ke depan gue bakal disibukkan dengan aktifitas nganggur. Kurang bahagia apa? Di saat temen-temen seangkatan ngeluh dengan tugas kuliah yang berat, gue di rumah justru sedang menikmati kebebasan jadi pengangguran. Tapi yang namanya pengangguran hidupnya pasti lebih banyak gelisah, karena gue juga manusia normal yang bisa merasa bosan sekalipun ketika berada di zona nyaman. Bagi gue ini adalah zona nyaman, nyaman banget malahan. Gue bisa aja setiap hari cuma duduk santai selonjoran di depan tv sambil nyemilin kurma dan dikipasi dayang-dayang layaknya Raja Mesir, tapi batin gue menolak untuk terus-terusan begini. Gue berusaha untuk fokus nganggur, maksudnya menikmati masa nganggur tanpa perlu memikirkan hal lain yang cuma bikin tambah pusing. Tapi itu nggak mungkin, karena sejatinya nggak ada pengangguran yang bisa hidup tenang, kecuali pengangguran profesional. Nganggur bukan jadi refreshing malah bikin pusing. Ternyata otak pun minta diperlakukan adil, ketika tidak dipenuhi haknya (untuk berpikir), otak membalasnya dengan rasa sakit.

Sewaktu masih sekolah gue pikir masalah hanya ketika ujian nasional dan berakhir saat lulus, ternyata setelah masalah masih ada masalah berikutnya. Analoginya seperti mereka yang memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidup dengan harapan setelah meninggal semua masalah selesai, memang permasalahan dunia selesai, tapi di akhirat akan muncul menjadi masalah baru. Untungnya dalam menjalani masa-masa nganggur ini gue nggak sendirian, gue dipertemukan dengan pengangguran-pengangguran lainnya, nggak sedikit temen seangkatan yang juga memilih berhenti setahun. Saat pengangguran bertemu dengan sesama pengangguran, kegelisahan berubah menjadi bahagia, walau sebenarnya itu terpaksa. Semoga selama setahun ke depan gak ada survey angka pengangguran di Indonesia.  Malu kita, nyesek-nyesekin negara doang.

Tulisan ini hanya curhat tentang kegelisahan yang sedang gue alami, sekaligus untuk mengisi posting-an baru di blog. Ada orang bilang setiap kegelisahan akan menghasilkan sebuah ide. Siapa tau setelah gue tulis kegelisahan ini akan menghasilkan ide, atau bisa jadi tulisan ini hasil dari kegelisahan tersebut. Kalau benar begitu, mau cari kegelisahan lain ah, supaya rajin ngeblog.

Advertisements

28 thoughts on “Pengangguran (dipaksa) Bahagia

  1. Lah, lu baru lulus tahun kemarin man?
    Gua kira mah kita sepantaran.. Hahaha..
    Eh tapi biar pengangguran tetep harus semangat dong! Semangat nganggurnya. Jangan males2an gitu ya.
    Oiya, itung2 cari jajan, ikutan giveaway gua gih! Kali aja menang 😀

    1. Enggak lahh, gue ini yg paling muda di antara kalian-kalian.. hehe..
      Semangat setiap saat pasti itu, jobless not hopeless. 😀
      Gue usahain ikutan selagi nganggur Ta, eh mas Tata.. semoga kali ini bener2 diusahain.

  2. Memilih kuliah memang sangat susah sih sebetulnya, Mas :hehe. Mesti sangat dipikirin banget soalnya akan sangat menentukan masa depan bahkan sampai meninggal nanti, saking krusialnya. Makanya waktu berpikir sampai menghasilkan keputusan yang matang akan penting juga, dan tidak semua orang bisa dengan mudah memutuskan mau lanjut pendidikan di mana dalam waktu yang sangat singkat ini sehingga kalau sudah memilih untuk menambah waktu satu tahun lagi, kayaknya tidak apa-apa :hehe. Waktu satu tahun bisa buat macam-macam juga sih, buat personal branding atau untuk menambah ide tulisan di blog :hehe. Semangat terus, ya.

    1. Iya, ternyata gak seperti yg ada di pikiran saya sebelum lulus. Makanya saya juga hati2 supaya gak salah pilih, mending tahan berhenti dulu deh daripada buru2 yg akhirnya malah gak sesuai. Setahun ini buat bangun personal branding oke juga. Makasih atas saran dan dukungannya! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s